muiz5
Abdul Muiz Centre (AM Centre)
, adalah lembaga milik Abdul Muiz (AM), beliau adalah seorang pengusaha muda dari salah satu desa di kabupaten Jepara yang menjalankan bisnis di bidang jasa. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha MITRA MANDIRI GROUP. Dalam banyak kesempatan, ia sering juga terlibat di organisasi atau kegiatan sosial dan keagamaan. AM lahir dari sebuah keluarga yang hidup sederhana. Ia adalah anak ke kesembilan dari tiga belas bersaudara. Ayahnya meninggal, ketika  masih berumur 7 tahun.

AM menyelesaikan pendidikannya mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), MTs, MA  hingga Taman Pendidikan Al-Qur’an dan Pesantren di lembaga Yayasan Islam Hasan Kafrawi di desa Pancur, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, yang kebetulan didirikan oleh keluarga sendiri dari keturunan KH. Hasan Kafrawi. Ia sempat mampir Ngaji di kota Malang sebelum memutuskan untuk pindah ke kota pelajar, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pada tahun 2002, AM mulai pindah ke Yogyakarta. Dengan bekal uang Rp.375.000,-,  AM berangkat ke Yogyakarta. Bekal tersebut ia gunakan untuk biaaya transportasi, biaya hidup, dan untuk pembayaran kuliah. Sejak itu pula AM tidak malu untuk tidur di masjid sampai pada akhirnya numpang di salah satu kontrakan organisai yang ia ikuti.

Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah menjadi mahasiswa di IAIN Sunan Kalijaga waktu itu adalah jualan buku keliling. AM memberanikn diri untuk membeli sepeda motor bekas dengan cara kredit. Dari hasil jualan bukunya memang belum cukup untuk membayar angsuran, apalagi untuk biaya makan dan bayar kuliah.

Karena tidak punya uang untuk mengangsurnya, AM mulai melirik pekerjaan untuk jualan kertas bekas. Alhamdulillah dari pekerjaan ini hasilnya cukup untuk membayar angsuran. Pada suatu hari, karena ada salah satu ruang kosong dimana AM ikut menginap, maka AM bersepekulasi untuk membesarkan usahanya, hingga terkumpul kertas bekas dalam jumlah yang lumayan bayak hampir mencapai 3000 kg kertas bekas atau senilai kurang lebih Rp.3.000.000,-. Ternyata usaha jualan kertas bekas tersebut belum menjadi jalan penghasilan yang tepat, kertas bekas yang sempat dikumpulkan sebanyak itu tidak sempat terjual karena kertas bekas kehujanan akibat atap bangunan yang bocor mengakibatkan kertas bekas tidak bisa diselamatkan.

Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. Yang paling penting tindakan, itu yang selalu dijalankan AM.

Dalam perjalanannya kemudian, AM mulai mengembangkan cara lain dengan berjualan pulsa. Dan setelah mulai ada perkembangan di kembangkan dengan membuka kounter jual beli HP bekas dan service. Pernah ada kesalahan yang sangat merugikan karena dalam berjualan pulsa sering kali terjadi kesalahan transaksi. Kesalahan fatal yang akhirnya menutup usaha ini adalah AM belum bisa membedakan antara uang modal dan uang laba. Pada suatu hari, terkumpul uang sejumlah Rp. 3.000.000 dan uang tersebut digunakan untuk membesarkan usahanya dengan cara membeli almari etalase dan papan nama. Ternyata AM kehabisan modal, karena tidak tau bahwa uang tersebut sebagaian besar adalah uang modal sehingga kehabisan barang yang akan dijual.

AM mulai menekuni dunia percetakan, mulai dari tukang desain, layout, edit bahkan operator mesin cetak. Ketika itu selain belajar wirausaha, AM mendapat imbalan Rp.350.000 perbulan. Tak kehabisan akal, di malam harinya AM menyempatkan diri dengan berjualan roti bakar dan durian bersama temannya untuk menambah pendapatannya.

Ada cerita lain yang pernah AM alami, yaitu mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya. Pada tanggal 4 Mei 2006 AM hampir putus asa dan memutuskan untuk pindah daerah. Untuk menenangkan pikiran, AM sempatkan  mengunjungi kontrakan temannya yang kebetulan disana kebanyakan dihuni oleh  keluarga besar Gus Mus, panggilan akrab KH.Mustofa Bisri yang sedang kuliah dijogja. Keasikan ngobrol hingga larut malam, akhirnya satu temannya menyarankan untuk mengurungkan niat berangkat pindah ke daerah lain, dan disarankan keesokan harinya saja. Sebelum fajar terbit, pada tanggal 6 Mei 2006 daerah Jogja dan sekitarnya dilanda musibah Gempa bumi. Singkat cerita akhirnya AM justru tidak jadi pindah karena disibukkan dengan kegiatan relawan Komunitas Mata Air ( Komunitas yang didirikan oleh Gus Mus) di daerah yang diguncang gempa.

Setelah menjadi relawan, ada kenalan yang kemudian menawarkan AM bekerja sebagai Marketing di sebuah Perusahaan Swasta. Keberhasilan AM tidak  terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan untuk terus belajar berwirausaha dan membangun jaringan. Setelah jatuh bangun, AM menjadi trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan AM berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional. Banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain. Terbukti berbagai pekerjaan yang ditekuninya, mulai dari marketing, Kepala Kantor Perwakilan, hingga menjadi diangkat sebagai Manager Marketing di kantor pusat.

AM selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu AM meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut AM, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.

Pada tahun 2008, AM memang dapat menyelesaikan pendidikannya di Jurusan Sastra Arab Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga. Akan tetapi, dalam karir pekerjaanya AM justru memilih keluar dari perusahaan setelah ada salah faham dan ia dinilai menyudutkan perusahaan oleh pimpinannya dengan beberapa kebijakan di departemen marketing yang ia pimpin. AM masih percaya bahwa kebijakan dengan penjualan dengan cara memperbaiki produk dan pelayanan yang ia terapkan tidak salah, dan justru untuk mengembangkan perusahaan.

Kehilangan sumber pengetahuan dan  penghasilan, AM lantas mencoba membuka usaha persewaan mobil. Karena tidak punya modal AM menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.

Usahanya ini hanya memasarkan milik orang lain, baru  setelah ada yang menyewa ia pinjamkan ke tempat persewaan. Setelah dapat membentuk pasar, AM memberanikan diri untuk mulai membeli mobil dengan cara kredit. Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita penggelapan yang menghilangkan mobilnya. Kehilangan sumber penghasilan lagi, AM tetap dengan tegap menatap masa depan.

AM percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.

Untuk menenangkan pikiran, AM seringkali silaturrahmi ke teman-temanya dan melakukan perbincangan. Akhirnya muiz memutuskan untuk mendirikan sebuah perusahaan yang diberi nama CV. MITRA MANDIRI yang bergerak di bidang penjualan sepeda motor dengan sistim cash dan arisan. Pada awal berdiri  perusahaan ini hanya dikelola  oleh 3 orang. Hingga sekarang perusahaan ini sudah memiliki 30 karyawan pusat, 90 Karyawan Mitra Cabang dengan 45 Mitra Cabang yang tersebar di Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, Bantul, Kulonprogo, Magelang, Boyolali, dan Kediri Jawa Timur. AM juga mengembangkan usahanya dengan menginisiasi mendirikan Koperasi Simpan Pinsam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) Mitramandiri Dana Sejahtera. AM menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.

AM juga pernah merintis usaha kuliner Warung Kopi yang diberi nama Jogja Coffee University dan usaha produksi kaos oblong yang diberi nama TULADHA. TULADHA dirintis sebagai media dakwah melalui kata-kata tauladhan atau dakwah melalui kaos oblong yang diyakininya dapat mencapai sasaran dakwah secara lebih luas.

Setelah mengalami kemajuan, AM juga mendirikan lembaga Sedekah Umat dan telah mendapatkan restu dari Gus Mus, sebagai bentuk rasa syukurnya untuk menggalang dana dan diberikan kepada yang berhak melalui program pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan.

Dua tahun terakhir sedang diamanahi menjalankan bisnis jama’ah PT. Toko NUCO Nusantara yang bergerak dibidang industri Ritel dan menjabat sebagai Direktur Utama.  selain itu juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT. NUSLEM Nusantara Grup sebuah perusahaan yang memiliki beberapa unit usana antara lain NUSLEM Food dan NUSLEM Craft. Perusahaan ini didirikan oleh PC Lembaga Perekonomian NU Kabupaten Sleman.

Aktifitas AM sekarang selain mengelola beberapa usaha, mendirikan lembaga-lembaga Entrepreneur seperti Wirausaha Mitra Mandiri, sebagai Ketua Pengurus Cabang Lembaga Perekonomian NU Kebupaten Sleman, bergabung juga di Asosiasi Business Development Service Indonesiai (ABDSI) Korwil DIY, sebagai sekretaris PW Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Regional DIY, Pengurus Wilayah Himpunan Pengusaha Nahdliyyin (HPN) DIY, dan ikut sebagai pendiri dan sekaligus ketua Yayasan Wirausaha Nusantara. AM juga aktif mengikuti kegiatan sosial keagamaan seperti Jamaah Nahdliyyin Mataram, Gerakan Pemuda Ansor, dll.